Berharap malam itu ada pertemuan antara Aku dan Kamu. Seperti malam sebelumnya, Aku hanya melihat mu dari jauh, jauh bukan karena jarak, tapi jauh karena malu menampakkan diri disaat Kamu dengan temanmu (katamu itu teman).
Menunggu pesan mu, menunggu notifikasi dari mu. Aku tunggu Kamu kasi kabar, telfon, chat, atau apapun itu sebagai informasi kalau Kamu sudah datang ke tempat yang dulu. (ternyata tidak)
Sejak hari pertama kedatangan mu itu, Aku chat, dengan siapa Kamu di disitu (tempat singgah). Tidak ada respon, tidak ada balasan, dan tidak ada kabar. Beberapa waktu kemudian setelah pesan itu terkirim, akhirnya ditarik (pesan dihapus).
Malu kirim pesan tidak digubris sama sekali. Karena mungkin baru sampai, lelah setelah perjalanan, juga mungkin karena jet lag jadi pesan tidak dibalas.
Dari sudut ke sudut Aku menunggu sembari berpindah tempat, dari satu warung ke warung yang lain, dari warkop satu ke warkop yang lain di daerah situ, dengan satu alasan pesan balasan dari Kamu.
Aku tunggu Kamu istirahat dulu, harapannya setelah itu ada kabar kalau Kamu sudah datang ke tempat terakhir ketemu dulu.
Seakan orang sibuk sekali atau mungkin orang-orang kira Aku tidak punya kegiatan lain, bolak-balik, lalu-lalang di jalan itu.
Kaget! Shok!
Aku kira kamu istirahat, ternyata keluar, jalan, dan tidak ada kabar sama sekali atas kedatangan mu itu.
Mau bagaimana lagi, Aku tunggu lagi, paling nanti kembali lagi kesini, mungkin ada yang urgent makanya keluar (in my fucking opinion)
Sampai malam, jam sebelas, baru pulang, entah darimana. Jalan pokoknya, mall mungkin, nonton mungkin, makan bareng mungkin. Lama, dari sore ke tengah malam itu lama.
Yah, tidak apa-apa, mungkin besok Kamu kasi kabar. Walupun pesan yang tadi tidak direspon ya, tapi Aku tetap menunggu notifikasi dari Kamu kalau sudah di tempat yang dulu.
Malam itu panjang, panjangnya panjang sekali, tapi tidak jadi soal. Ada warkop buka 24 jam, jadi aman. Warkop jambu, malam ini temani Aku dengan Menu-menu mu sambil menunggu kabar sampai besok pagi.
Belum ada respon sama sekali, ini sudah pagi dan pastinya sudah sangat mengantuk. Aku pindah tempat sambil menunggu kabar, berharap ngantuk juga hilang kerena jalan sebentar.
Warkop yang berbeda, masih belum ada respon dan akhirnya Aku tidur, ketiduran setelah pesan kopi. Luar biasa kan, pesan kopi dan tidur.
Bangun agak siang dan masih belum ada notifikasi, Aku tinggal kopinya, mendekat ke tempat mu berharap bisa ketemu. Tapi, Kamu keluar, jalan lagi, sama Dia lagi, Si Anjing itu lagi.
Ternyata Kamu cari tempat istirahat di daerah itu bukan karena dulu kita sering jalan, jajan, dan menghabiskan waktu disitu. Tapi, sejak awal Kamu memang sudah merencanakan untuk ketemu Si Anjing itu, ditempat itu.
Wow, sakit sekali, ini terulang lagi..
Mau ditegur pasti Malu, Aku malu, Kamu juga pasti malu. Akhirnya Aku diam, melihat, memandang dari jarak beberapa meter itu.
Kamu jalan lagi dengan Si Anjing itu, lagi-lagi ketemu Si Anjing itu. Setelah sebelumnya kejadian yang serupa, sekarang malah Kamu Ulangi.
Kamu lebih memilih berkabar untuk Si Anjing itu dibandingkan dengan Aku.
Dengan sadar Kamu ulangi kejadian itu, mungkin anggapan mu selama Kita tidak bersama Kamu bisa melakukan itu semua, hal-hal yang selalu Aku ingatkan setiap hari, dan bahkan hal yang hampir saja buat Aku stres kala itu.
Luar biasa, Kamu Luar Biasa
Siang itu, hari kedua sejak kedatangan mu, Kamu senang sekali jalan dengan Si Anjing itu, Kamu bersafari ke ragunan, keliling dengan Si Anjing itu melihat binatang yang lain. Setelah itu bertamasya ke Blok M. Kamu seneng sekali dengan Anjing itu, Kamu bayarin makannya, kamu bayarin minumnya, Kamu makan disampingnya, kamu suapin mulutnya (eh). Senang sekali ya.
Lama, jalan lama sekali, memang sudah direncanakan untuk menghabiskan waktu bersama Si Anjing itu. Temu kangen setelah sekian purnama tidak bertemu.
Sementara Aku, ketemu?
Kabar pun tidak ada.
ANJING!
_______________________________________
Ini malam kedua sejak kedatangan mu ditempat dimana kita habiskan waktu bersama (dulu).
Setelah Kamu jalan seharian itu, dan setelah Aku berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti orang bodoh. Akhirnya jam sebelas malam Kamu lewat, jalan menuju tempat istirahat itu, jarak Kita dekat Sekali waktu.
Lagi-lagi Aku hanya diam, melihat. Ingin sekali rasanya Aku menegur mu waktu itu. Tapi Kamu dengan Si Anjing, masih jalan bareng.
Sampai pada akhirnya Aku melihat Kalian jalan menjauh dan Aku diam saja disana waktu itu. Entah bagaimana dan harus apa waktu itu.
Gelap, sepih, sendiri, duduk dibawah warung terpal dekat Polsek.
Anjing, Anjing..
Akhirnya Aku telfon. Kali ini Aku tidak berharap lagi Kamu respon telfon itu, .......
_________________
To be continued..
Post a Comment for "Ditengah Malam Sunyi Ku Sendiri "