Kopi Sabar dan Sung Go Kong

Seperti halnya kopi tubruk yang mengendap di dalam gelas, diaduk oleh Sung Go Kong dengan penuh ambisi, mencari kitab suci di ujung utara bersama biksu yang agung.

Sementara disini yang lain, sebatang lintingan tembakau yang belum terbakar berdiam dalam balutan kitab Marlboro Black, menggambarkan kesabaran yang tak ternilai oleh Si perantau gondrong yang sedang berada di atas samudra tempat para begundal tambang.

Tempat dimana batu bata terususun rapi menjulang tinggi ke atas bercampur kilau marmer, kayu jati dan juga lapisan emas, logam dan besi beterbangan. Seolah hadir kekuatan ilahi yang mengontrol itu semua dengan sistematis.

Lalu sekarang apakah Si gondrong seperti Sung Go Kong

Kita mulai kisahnya dengan mundur 1000 abad yang lalu ketika manusia masih belum diciptakan. Tulang, daging belum menyatu, darah tak berwarnah, jiwa masih dalam genggaman, reinkarnasi, evolusi, dan tanah.

Begitulah istilah mata yang belajar, telinga yang mendengar, pikiran yang berputar, awal dari akhir, sosok yang berpikir, berperasaan, lalu kemudian tumbuh kembang jadilah Si gondrong.

Akhirnya penulis menyadari betapa rumitnya kesabaran tanpa akhir dari cerita. 

Begitulah kopi tubruk, ampasnya mengendap. 😅😅


_______________

Takdir Muhammad 

Post a Comment for "Kopi Sabar dan Sung Go Kong"